Minggu, 02 November 2014

Tuhan Titip Cinta

Tuhan menitipkan cinta pada yang siap.
Siap berkorban, siap tersisih, siap merana.
Tuhan merenggut cinta pada yang tak bisa.
Tak bisa menghargai, tak bisa menjaga, tak bisa ikhlas.

Lalu ada kala ketika Tuhan menyembunyikan cinta didalam cinta.

Cinta yang terbit setelah cinta yang ada ditenggelamkan oleh kehendakNya.

Bersukacitalah, karena disaat itulah kamu tahu mengapa Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang..

Kamis, 09 Oktober 2014

Ada Risau

Menggelisahkan memang jika kamu mnyimpan cinta yang besar, yang teramat.
Hujan badai pun tak berdaya meluruhkannya menjadi kenangan..
Kenangan yang mengalir menuju limbah masa lalu..
Tidak, belum ada yang mampu.
Tak juga keluh kesah tentang betapa jahilnya dia dan egoisnya sebagai laki-laki..
Karena buatmu itulah hal-hal manis penguat rasamu padanya..
Kamu termakan janjimu sendiri untuk tak terlalu jatuh hati pada laki-laki..
Karena kamu tahu bahwa luka itu akan terjadi.. Lagi..
Hanya saja..
Kamu terpedaya tipu muslihat cinta..
Sehingga membiarkannya tumbuh pesat bagai parasit yang menggerogoti akalmu..
Hatimu gemetar jika mengingat perpisahan..
Kamu melupakan kenyataan..
Tentang perbedaan..
Tangisanmu memang tak akan menggelegar,
karena tertahan oleh ketegaranmu..
Tapi, kamu tak akan pernah lupa bahwa ini bukan sakit yang biasaa..
Dan kamu ikhlas untuk jatuh cinta padanya.

Senin, 04 November 2013

Dialog Kereta



Minggu pagi. Semarang. Cuaca yang indah dan bergelora. Setasiun kereta sudah dipadati orang-orang dengan tujuan berbagai kota. Aku sedang menunggu didalam  gerbong empat, menunggu pukul 09.15. Waktu dimana kereta menggerakkan rodanya menuju Kota Bahari.
Ponselku bersuara.

Gue mau curhat, nyong. Sumpah, gue ngerasa bersalah banget. Hati berasa cekit-cekit kalo inget. Apa gue harus enyah ya dari muka bumi?”

Tiba-tiba sebuah pesan dari seorang teman menyela keasyikan menikmati lamunan. Membuatku penasaran apa gerangan yang mengusik hatinya dipagi yang cerah berawan ini. Fokusku berganti haluan. Hiruk pikuk digerbong kereta ini tidak mampu mengganggu rasa penasaranku atas kecemasan yang dihadapi olehnya. Ah, prolog pagi hari yang menyebalkan.

“Kenapa lagi sih? Galau lo? Lo dimana?”

Sempat terlintas dibenakku, ini pasti masalah pacar. Wajarlah, pasalnya dia kan sedang  menjalani yang namanya long distance relationship. Dan aku sudah paham betul bahwa hubungan LDR selalu membawa sekelumit masalah. Tak terkecuali dia. Aku menebak begitu.

“Gue ngerasa jadi orang yang gak berguna. Gak bisa diandalkan. Gue di Blora.”

“Emangnya selama ini lo berguna? Hahahahahahaa... Serius ah, kenapa sih? Masalah sama siapa lo? Oh, di Blora.

Aku merasa yakin kalau ini masalah ini pasti ada hubungannya sama pacarnya, Husna, yang sekarang berada di Birmingham.

“Ah, kampret! Ini masalah sama kakak ipar gue nyong. Jadi gini ceritanya..”

Oh.. ternyata tebakanku salah besar.

“Gimana ceritanya? Panjang? Kalo panjang gue tidur dulu, siapin tenaga buat dengerin cerita lo..”

Aku geli sendiri menulis gurauan ini. Tidak mungkin aku tidur dalam perjalanan pulang kali ini. Disamping karena seat kereta ini kurang nyaman untuk tidur, selain itu juga karena jarak waktu yang ditempuh cukup dekat. Aku khawatir nanti kebablasan.

“Sialan! Gaklah.. Emangnya gue mau cerita masalah negara. Jadi gini nyong, rencananya kan hari ini gue balik ke Semarang. Nah semalem tuh gue kan minjem motor kakak  ipar gue buat keluar. Rencananya mau sekalian beli tiket kereta sama sekalian ngambil duit di ATM. Pas gue pake motor itu, gue liat meteran bensinnya udah nunjukkin ke garis merah. Yah, sedikit lagi abislah. Jadi, gue niat mau ngisi bensin juga. Eh, tapi entah kenapa itu semua gak gue lakuin. Gue gak beli tiket, gak ke ATM, dan gak ngisi bensin.Dan yang paling bikin gue ngerasa gak berguna lagi itu pas besok paginya..”

Suara peluit panjang memotong konsentrasiku. Obrolanku dengan Guntur terhenti sejenak. Pandanganku beralih keluar jendela. Memandangi deretan kursi-kursi tunggu penumpang yang lambat laun hilang dari pandangan. Kereta sudah melaju. Meyenangkan sekali jika keberangkatan kereta sesuai dengan jadwal yang tertera. Setidaknya, intitusi ini sudah mulai memahami pentingnya menghormati sebuah jadwal. Syukurlah. Ketika sedang masih asyik merenung, ponselku berbunyi lagi. Ah! Guntur! Aku kelupaan..

“Tadi pagi, kan kakak ipar gue mau make motornya, ternyata bensinya abis. Akhirnya terpaksa deh dia ngeluarin mobilnya. Dan lo tau apa? Mobilnya, entah kenapa, mogok! Parahnya lagi, tiba-tiba ponakan gue masuk kamar gue, bilang gini.. ‘motore ayahku bensinnya mbok entekke tho?’”..

Runyam! Sepertinya aku paham perasaannya. Pasalnya, sejauh yang aku ketahui, hubungan dia dan kakaknya kurang harmonis. Bisa jadi hal ini yang membuat dia merasa segan berhadapan dengan kakak iparnya yang notabene adalah suami dari kakaknya. Tampaknya dia sedang menciptakan kuburannya sendiri. Tapi, bisa jadi pemikiranku berlebihan.

“Trus, lo diem aja? Gak bantuin kakak ipar lo? Atau apalah..”

Guntur membalas secepat kilat.

“Nah, itu dia yang bikin gue ngerasa selain bersalah, juga bego. Gue mendingan dimarahin sama Pak Amir deh, dibego-begoin sama Pak Amir ketimbang ditegor sama ponakan sendiri! Maluuu... Dan lo tau apa? Gue cuma bisa ngintip dari kamar gue, ngintip kakak ipar gue otak-atik mobilnya. Mengkeret gue. Mau nolongin malu, tapi kalo gak bantuin rasanya makin parah. Padahal ya, biasanya itu mobil gak mogok!”

Dari jendela pintu penghubung gerbong kulihat dua orang petugas tiket sudah mulai melakukan kegiatan mereka memeriksa tiket para penumpang. Satu orang berpakaian layaknya seorang kapten, berseragam hitam, memakai topi seperti polisi, entah apa namanya. Sangat berwibawa dan berkarakter. Membawa pembolong kertas yang digunakannya untuk membolongi tiket, tanda bahwa tiket sah dan tidak bisa dipakai lagi. Sedangkan yang satu lagi, dugaanku, adalah bawahannya. Dilihat dari seragam yang dipakainya, hanya kemeja putih layaknya petugas setasiun dan celana bahan berwarna gelap. Entah itu warna hitam atau biru dongker.  Saat mereka menghampiri tempatku, kupandang wajah sang kapten yang sangat berkarisma. Yah, pantaslah dia menjadi kapten. 

“Aaaah! Memalukan! Apa-apaan kelakuan lo... Lo gak malu sama ponakan?? Udah disindir begitu... Kayaknya, kalo menurut gue, lo belom paham sama arti komitmen deh.”

Beberapa saat, obrolan kami tersendat karena masalah sinyal yang up and down. Aku mendengus karenanya. Bukan hal yang menyenangkan jika berseteru dengan sinyal. Apa boleh buat, marah pun hanya bikin boros tenaga.

“Itu dia.. Kayaknya gue gak bisa menghargai hidup gue sendiri deh. Gue bahkan gak bisa berkomitmen sama diri sendiri. Masih kepikiran omongan ponakan gue..”
“Yah, gimana lagi. Saran gue, mending lo berguru sama Tuhan deh kalo masalah berkomitmen. Mumpung gratis! Tapi setidaknya, lo sadar kalo tindakan lo selain ngrugiin diri sendiri juga ngerugiin orang lain...”

Komitmen. Aku tahu apa tentang komitmen? Hehehehe... Padahal aku juga kurang yakin apakah pemahamanku tentang pentingnya arti komitmen dalam hidup sudah benar. Perlu pembenahan komprehensif tentang hal itu. Bisa jadi aku salah kaprah dalam menjalankan konsep komitmen dalam hidup. Atau bisa jadi, aku malah mengeluarkan doktrin yang salah tentang konsep tersebut. Waduh!

“Tau gak lo, padahal gue udah ngerencanain pulang ke Semarang dari hari kamis. Biar kamis malemnya gue bisa ngaji sama guru ngaji gue. Gue pengen silahturahmi sama keluarga dan kerabat disana.. Gue pengen nyoba untuk bisa tepat waktu dan disiplin sama jadwal kereta juga hidup gue.. Gue pengen nyenengin ponakan-ponakan gue, beliin mereka susu sapi kesukaan mereka.. Terus nemenin lo.. Tapi apa? Semua gagal total! Sekarang gue jadi takut berkomitmen.. Astagfirullah...”

Lho? Kenapa jadi takut berkomitmen? Dasar, Guntur. Dia malah memilih untuk jadi lelaki kebanyakan. Takut komitmen. Aneh. Padahal komitmen bukan monster, pembunuh, psikopat gila, bukan juga sejenis mahluk halus menakutkan macam kuntilanak atau genderuwo. Dimana letak logikanya antara komitmen dengan rasa takut? Bukankah sedari kecil, secara tidak sadar, kita sudah mengenal komitmen? Misalnya, sekolah. Orang tua sudah susah payah menyekolahkan kita, kemudian secara tidak sadar kita ingin supaya orang tua kita bangga dengan diri kita melalu prestasi. Bukankah itu bagian dari komitmen? Atau memang bukan? Ah, mungkin aku salah. Toh, aku juga belum paham betul tentang komitmen.

“Berarti lo gak menghargai hidup nyong. Eh, berati gak menghargai gue juga dong selama ini?? Ah, cukup tau!”

Penumpang didepanku mengejutkanku (juga penumpang lain) dengan suara dengkurnya yang merana. Seolah napasnya tersangkut di tenggorokan, sehingga menghasilkan suara yang menggelikan dan mengganggu. Aku terbengong sebentar menatapnya. Lelaki tua berumur  sekitar lima puluhan, berbadan tambun, terlelap dengan tangan bersedekap didepan dada. Kaos merah polo terlihat sangat ketat dibadannya, dipadu dengan celana jins berwarna hitam dan sepatu keds putih berlogo NB. Sepertinya orang ini berusaha untuk tampil tidak sesuai umurnya. Dan, sepertinya dengkur ini akan menemani perjalananku hingga usai.

“Ini semua tuh gara-gara diri lo sendiri!”

“Iya nyong, gue tau... Tiga hari ini gue gak menghargai lo, bukan selama ini.. Tiga hari doang..”

Ada nada sedih dalam kalimatnya. Aku membayangkan wajah Guntur yang murung dan gelisah. Pasti wajahnya tambah jelek. Jarang sekali dia terlihat tampan. Yah, apa boleh buat. Aku hanya bisa memberikan motivasi alakadarnya. Tidak bisa memberikan wajah tampan. Hahahahaha... Ah.. Toh, sebentar lagi dia pasti akan baik-baik saja.

“Gue berasa kayak anak kecil. Bahkan ponakan gue yang umurnya baru lima taun aja lebih dewasa dari gue. Sumpah. Tamparan keras! Pengen nangis gue. Kesel sama diri sendiri. Betapa bodohnya.”
Sinyalnya sudah membaik. Pesanku sampai dengan cepat.

“Lo pengen nangis? Gue malah pengen ketawa didepan muka lo.. Kayaknya enak!”

Aku mengubah posisi duduk supaya lebih nyaman, walaupun semua posisi terasa tak nyaman di kursi penumpang ini. Kuputuskan untuk memutar music player diponselku. Semoga bisa mengusir rasa tidak nyaman akibat kursi ini.

“Iya, boleh deh lo mau gimana... Gue lagi menerima caci maki 1x24 jam nih. Lo tau gak, gue pengen banget rasanya pake sempak dikepala. Adem kali yak?”

“Iye! Buruan lo foto, terus pajang deh jadi display picture... aaah, lo! Ada ada ajaaaa..”

“Share FB dan Twitter juga sekalian ya.. Gue minta maap ya nyong kalo ngecewain lo.. Yang penting gue udah jujur, gue harap lo mau menerima permintaan maap gue.”

Kenapa jadi minta maaf? Dia pikir ini Lebaran. 

Gue juga udah minta maap ke kakak gue. Lewat bbm sih, tapi untungnya dia gak marah..”

“Lo minta maapnya gimana?”

“Ya kayak cerita gue tadi, dia bisa nerima kok. Gak heboh kayak biasanya.. Gue bilang semuanya, gue bilang apa yang gue rasain. Ini pelajaran bagus buat gue, mungkin juga buat semua orang..”

Sejenak perhatianku berada diluar jendela. Tidak terasa aku sudah sampai di Pekalongan. Kota Batik. Batik, yang dulu pernah diklaim negara tetangga sebagai bagian dari budayanya. Untung saja kota ini tidak ikut diklaim juga. Berbahagialah bangsa ini karena sudah diselamatkan reputasinya oleh UNESCO yang telah mengembalikan batik ketempatnya semula. 

“Bagus deh kalo lo bisa memetik pelajaran..”

“Memaafkan itu bener-bener dahsyat ya efeknya, lebih kejam daripada dimarahin! Paham gak lo??”
“Yaiyalaaaahh.. Efeknya langsung kehati. Kehati, tapi gak jadi emosi. Beda kalo dimarahin, efeknya kehati juga tapi jadi emosi..”

“Iya, hebat banget rasa mirisnya.”

“Hati berasa cekit-cekit kan. Lebih parah daripada diputusin rasanya...”

“Iye cekit-cekit.. Gak tau mau nangis apa mau nahan. Rasanya kayak pas muka gue ditempelin buah dada.. Gimana gitu rasanya...”

“Lah? Apaan hubungannya sama buah dada?? Ah, bagian ini gue blur...”

“Lagian lo, hubungannya apa sama diputusin...”

“Ya kan kalo diputusin juga rasanya cekit-cekit, bego.. kalo ditempelin buah dada mah rasanya sir-siran! Oke, di skip aja bagian buah dadanya. Terus, analogi yang pas apa dong?”

“Oke. Jadi rasanya itu semacam dulu waktu kecil gue minta mainan, udah dijanjiin sama emak gue tapi pas udah ditokonya gak jadi dibeliin. Terus pulang, sampe rumah gue ngerasa jadi anak yang terbuang. Mojok dikamar sambil berkata dalam hati,’Kenapa hidupku malang seperti ini Tuhan?’”

Rasa-rasanya, analogi ini kurang pas. Terdengar kurang nyambung. Ternyata bermain analogi itu tidak mudah. Komitmen, buah dada, dan sedih. Apa analogi yang pas untuk itu? Otakku hari ini terlalu pekat untuk memikirkannya. Yang jelas, Guntur sudah menambah beban pikiranku akan hal ini. Ditambah lagi, ponselku sudah mengeluarkan kedipan berwarna oranye, tanda batre melemah. 

Jam ditanganku sudah menunjukkan pukul 12.00. Harusnya lima belas menit lagi kereta ini sampai dikota tujuanku, itu kalau sesuai jadwal. Semoga saja tidak molor dari jadwal yang sudah susah payah dibuat. 

“Kok rasanya gak nyambung ya nyong? Ah, pokoknya cekit-cekitlaaahh..”
“Iye gak nyambung! Eh, batre gue low nih. Entar kalo gue udah nyampe kos kita lanjutin deh ya. Pokoknya, saran gue lo benahin deh tuh hidup lo. At least, lo hargai waktu. Bersyukur udah dipinjemin waktu sama Tuhan. Udah untung gak disuruh bayar kan, gratis. Coba kalo disuruh bayar, mau bayar pake apa? Pahala lo juga gak cukup! Hahahahahaaaaa...”

Saat 20 menit yang terasa panjang berlalu, akhirnya gema ucapan selamat datang dari sebuah mikrofon yang entah ada dimana menyadarkanku kalau kereta sudah tiba di kota tujuanku. Orang-orang pada ribut memberesi barang-barang bawaannya. Sekardus dua kardus beratnya. Berat rasanya harus meninggalkan kereta ini, karena tandanya aku harus meyudahi perjalananku kali ini. Padahal aku masih ingin melamun, merenung, menjamahi khayalan. Satu-satunya kegiatan yang menolongku mengalokasikan berbagai macam pertanyaan-pertanyaan dalam hidupku. Kegiatan yang menyadarkanku bahwa ternyata merenung dalam perjalanan itu lebih menyenangkan ketimbang menenggak kesendirian didalam kamar kos. Aku selalu bahagia menjalani perjalanan!

Ponselku bersuara lagi. “Setaaaaaaaan! Pahala lo juga itu sumbangan dari gue, kampreeeett... Yauda, kabarin gue ya kalo lo udah sampe kos. Oke, pesek! Muuaacch!”

Kuakhiri obrolanku dengan Guntur dan memasukkan ponselku kedalam ransel. Aku sudah siap didepan pintu kereta, menunggunya terbuka. Sambil menunggu, aku menyimak kegiatan segerombolan anak muda dibelakangku yang sibuk tertawa dan bersenda gurau dengan bahasa yang terdengar aneh ditelingaku. Lucu, tapi aku suka. Logat itu yang belum bisa aku kuasai. Logat kental dan medok yang tidak semua orang didunia ini mampu kuasai. Logat yang sangat representatif akan keberagaman suku dan bahasa di negeriku. Jujur, aku sering menahan tawa jika orang-orang macam mereka sedang berkumpul dan dengan jumawa memamerkan keunikan mereka. Aku langsung tahu asal mereka. Semacam, determiner. Beruntunglah mereka yang mempunyai identitas yang jelas dan bangga akan hal itu. Aku malah merasa kasihan pada mereka yang seolah-olah ingin menutupi identitas mereka demi eksistensi dan prestis. Atas nama gengsi dan status sosial. Setidaknya, anak-anak muda ini sudah berani untuk jujur kepada telingaku bahwa menjadi berbeda dan lucu itu outstanding. Mereka bukti nyata dari negeri yang heterogen ini.

Pikiranku terpaksa berhenti  ketika pintu akhirnya terbuka secara otomatis. Para penumpang bergegas turun dari kereta dan beramai-ramai menuju pintu keluar. Dipintu keluar setasiun, sudah menunggu para tukang becak, supir taksi, dan tukang ojek untuk meraih simpati para penumpang agar mau menggunakan jasa mereka. Aku menampik tawaran mereka karena aku akan mengunakan jasa angkot. Lebih nyaman walaupun berdesak-desakan. 

Sesampainya ditempat angkot biasa ngetem, aku menunggu beberapa saat sampai akhirnya ada angkot kosong yang berhenti didepanku. Tanpa pikir panjang aku langsung saja naik karena sudah tidak tahan panas matahari yang membakar kulit. Sembari menunggu angkot penuh, ku alihkan pandanganku arah setasiun. Aku pasti akan merindukannya selama satu minggu ini. Merindukan suasananya yang hiruk pikuk, merindukan bisingnya suara kereta, merindukan perjalanan yang entah akan membawa renunganku kemana. Dialog dikereta pagi ini dengan Guntur menyisakan sejumput penyesalan. Penyesalan tentang betapa selama ini, ternyata, aku hanya pura-pura paham soal komitmen. Konsep yang kutenggarai adalah hal suci, namun adalah hal mengerikan buat sebagian orang. Semoga saja perjalanan minggu depan mengantarku ke sebuah telaga yang mengalirkan beribu jawaban tentang hidup. Juga, semoga minggu depan Guntur sudah tahu bagaimana caranya berhadapan dengan kakak iparnya, menjalani weekend yang menyenangkan, tanpa perlu mengganggu kekusyukan perjalananku. Sehingga aku tidak perlu lagi terusik perihal yang berhubungan dengan komitmen.  

BUMIAYU
April 2013

Rabu, 05 Juni 2013

INI TULISAN SAYA: Berhijab : Kualitas Atau Eksistensi

INI TULISAN SAYA: Berhijab : Kualitas Atau Eksistensi: Sebenarnya, agak malas juga memposting ini. Tapi, karena saya betul-betul kepingin makanya dengan segala alibi saya posting juga. Ada hal-ha...

Berhijab : Kualitas Atau Eksistensi

Sebenarnya, agak malas juga memposting ini. Tapi, karena saya betul-betul kepingin makanya dengan segala alibi saya posting juga. Ada hal-hal yang mengusik batin saya untuk sedikit agak 'nyolot' supaya nantinya tulisan ini menjadi pengingat saya.

Jadi begini, seperti judulnya sudah pasti yang saya ributkan adalah tentang berhijab. Mungkin terdengar aneh ya saya meributkan tentang hijab padahal saya bukan hijaber. Kesambet iblis mana saya bisa sebelagu ini menuliskan hal yang saya sendiri tidak lakukan(berhijab). Yah, beberapa alasan sepele melatarbelakangi "keributan" ini. Namun sebelum saya bocorkan alasan-alasan tersebut, ada baiknya kalau kita menilik barang sedikit tentang hakikat hijab itu sendiri.

Menurut bahasa Arab hijab itu berarti penutup atau penghalang. Hijab adalah salah satu bentuk pakaian yang disyariatkan oleh oleh agama islam bagi para muslimah. Sebagaimana yang tertera di Al-Qur’an:
….katakanlah kepada wanita-wanita beriman: “Hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan memelihara kehormatan mereka, kecuali yang lazim tampak. Dan hendaklah menutupkan kudung-kudung (kerudung) mereka pada mereka pada dada mereka. Dan janganlah memperlihatkan perhiasan-perhiasan mereka kecuali pada suami-suami mereka. (An-Nur 31)

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, putri-putrimu dan isteri-isteri kaum mukminin, supaya mereka menutup baju kurung mereka ke seluruh tubuh mereka. Demikian itu adalah untuk lebih dikenal, sehingga mereka tidak diganggu“. (Al-Ahzab 59)

Dari penjelasan ayat-ayat tersebut diatas yang saya copy paste dari sebuah sumber,  maka jelas sekali fungsi dan tujuan dari hijab. Hijab berfungsi untuk menutup anggota tubuh (aurat) seperti tangan, kaki, badan kecuali bagian-bagian yang lazim tampak seperti telapak tangan, kaki, dan wajah. Sedangkan tujuan hijab adalah untuk menjaga tubuh wanita dari subordinasi. Jadi yang dimaksud dengan hijab bukan hanya berkerudung tapi lebih dari itu. Maka gamblang sekali, menurut saya, jika hijab sangat mulia fungsi dan tujuannya. Tidak ragu-ragu, saya bahkan menaruh penghargaan tertinggi kepada wanita-wanita yang telah memutuskan untuk berhijab secara benar dan tepat. Beruntunglah laki-laki yang (kelak) beristrikan wanita berhijab karena berarti dia mendapatkan wanita istimewa yang tahu bagaimana menjajakan tubuhnya kepada laki-laki sahnya. Hehehe.. Mantap sekali bahasa saya!

Lalu, apa alasan saya meributkan masalah tentang hijab? Jadi begini.. Sebenarnya saya suka sekali wanita-wanita berhijab. Yang sebenar-benarnya berhijab. Bukan hanya sekedar mengikuti arus mode fashion atau temporary desire untuk tampil lain daripada sebelumnya. Mereka yang sebelumnya telah secara hati dan kepribadian berhijab yang kemudian diteruskan berhijab secara fisik adalah wanita-wanita yang luar biasa. Membuat saya malu, bahkan agak minder. Mereka yang membuat saya iri akan cepatnya proses mereka mendapat pencerahan. Bukan berarti hidup saya gak cerah yaa, hanya saja mereka lebih cerah! Saya iri!

Well, itu tadi pendapat saya tentang wanita-wanita yang sebenar-benarnya hijaber. Kemudian, ada lagi segelintir kaum hijaber yang entah bagaimana mereka malah menodai fungsi dan tujuan mulia dari hijab itu sendiri. Misalnya, karena diterima disuatu tempat kerja dan diharuskan melepas jilbab lantas mau-mau saja. Masa cuma segitu harga diri hijabnya? Lalu ada lagi, berjilbab tapi pakaiannya malah terkesan sensual. Ketat, membentuk tubuh, bahkan kadang agak transparan. Harusnya, hijab itu menutupi bagian-bagian tubuh yang secara visual berpotensi menimbulkan pikiran negatif, misalnya buah dada yang sintal dan pantat yang berisi. Bahkan ada juga yang sebentar berjilbab, sebentar tidak. Buat saya, hijab itu bukan main-main. Buat saya, hijab itu kemuliaan. Dan yah harus saya akui kalau hijaber macam itu bikin risih sebenernya, tapi mau gimana lagi. Toh, saya juga bukan orang  suci. Tapi setidaknya saya punya prinsip teguh bahwa hijab itu adalah nilai tertinggi dari cara wanita berpakaian. Dan saya belum mencapai level itu! Masih proses, masih mencari. Hanya saja, mbok ya kalau sudah berhijab jangan terus karena hal-hal konyol dilepas lagi walaupun untuk sementara. Setidaknya, bukan begitu caranya menunjukkan eksistensi. Mungkin ada juga yang mengganggap bahwa hijab adalah pengekang, penghambat, atau bahkan perusakpemandangan. Pengekang, karena mengekang atau membatasi gerakan. Penghambat, karena menghambat datang pekerjaan. Perusakpemandangan, karena harusnya tubuh wanita itu dinikmati semaksimal mungkin. Tanpa dibatasi atau dihalangi oleh apapun. Saya bahkan pernah mendengar rekan kerja saya yang berkelamin laki-laki, sebut saja Doni, berceloteh tentang seorang rekan kerja yang lain(wanita). Entah mengapa ditelinga saya terdengar seperti pelecehan paling nista walaupun mungkin saja maksud dia hanya bercanda. Dia berkata begini.. "Si Susan (nama disamarkan) berjilbab tapi binal yaa..". It's like, stab me in the heart! Sungguh saya paham  mengapa teman saya Doni berkata seperti itu tentang Susan, sebab Susan suatu kali pernah tampil menari untuk acara kantor. Dan dia menanggalkan hijabnya, untuk kemudian berganti dengan hotpant! Maka amat wajar jika Doni bisa berceloteh seperti itu. Celotehan Doni merupakan tamparan keras buat saya, juga mungkin buat wanita lain yang membaca ini. Bahwa kelak, saya harus benar-benar siap berhijab bukan karena keinginan siapapun, tapi memang karena diri dan hati saya telah siap memasuki fase hidup tertinggi dalam cara berpakaian dan cara hidup!

Maka dari fenomena diatas bisa dikatakan berhijab itu perkara kualitas atau eksistensi. Merekalah dan Tuhan yang tahu pasti, apakah hijab mereka merupakan bentuk dari perwujudan kualitas atau eksistensi. Dan kita, termasuk saya, yang akan menjadi komentatornya. Buat kalian yang gak sengaja membaca 'keributan' saya dan merasa tak sekata, boleh bungkam saya. Setuju dan tidak setuju itu sangat wajar, manusiawi, dan normal. Karena proses hidup tidak selalu tanpa cela, harus ada kaum-kaum oposisi untuk membuat hidup lebih berarti.



DAFTAR PUSTAKA

http://hijabers.blog.unissula.ac.id/2012/01/19
http://bordirkawalu.blogspot.com/2012/11

Sabtu, 01 Juni 2013

Jadilah Warga Negara Yang Baik Pada Waktunya

Akhirnya ada juga yang diposting. Sudah beberapa waktu absen menjenguk blog nista ini karena harus membenahi beberapa kericuhan dihidup saya, tapi finally i have a reason to return here. Jadi begini, minggu lalu Jawa Tengah baru saja meyelenggarakan pilkada. Pemilihan Gubernur. Seperti pilkada pada umumnya, gegap gempita kampanye-kampanye mewarnai kehidupan politik negara kita dengan warna merah, kuning, biru, hijau, dan sebagainya. Mulai dari kampanye ditiang listrik, pohon, tembok warung kecil, gerobak bakso, sampai televisi semua tidak luput dari incaran para penggagas kampanye. Walaupun sebentar, setidaknya ada warna lain yang hadir dalam perpolitikan dinegara ini yang sebelumnya berwarna hitam pekat. Dan itu bisa jadi merupakan kabar baik. Toh, hidup itu kan harus berwarna.

Berhubung sebentar lagi saya jadi warga Jawa Tengah, maka seharusnya saya memenuhi hak saya untuk memilih calon gubernur Jateng. Tapi pada akhirnya saya memutuskan untuk tidak ikut memilih. Alasannya? Banyak. Tapi, seumpama dikerucutkan jadi tinggal dua alasan penting saja. Pertama, karena KTP saya sudah kadaluarsa dan masih dalam proses. Kedua, karena saya merasa belum yakin untuk ikut berpartisipasi dalam proses pilkada ini. Lantaran yang sudah-sudah, seperti yang kita tahu, rawan dimanipulasi. Lantas, bagaimana atau apa yang harus saya percaya jika mode pemilihan kepala daerah atau pemilihan kepala-kepala yang lain tidak jujur. Inilah yang memberatkan saya untuk memenuhi hak dan kewajiban sebagai warga negara yang baik. Bolehlah dikatakan kalau saya ini memang bukan warga negara yang baik, saya tidak menggunakan hak dan kewajiban saya sebagaimana mestinya. Tapi tunggu dulu, pernyataan saya ini berkaitan dengan pertanyaan 'apakah pemerintahan negara ini sudah baik sehingga saya harus susah payah menjadi warga negara yang baik?'. Bukanlah sepenuhnya menjadi salah saya jika ternyata saya berubah menjadi warga negara yang tidak baik. Juga bukan berarti saya tidak ingin menjadi warga negara yang baik, karena saya sangat memimpikan bisa berpartisipasi dalam pemilihan apapun. Juga sangat menantikan saat ketika saya rela mengantri demi untuk mencoblos gambar pemimpin idaman saya didalam bilik kecil dengan perasaan bahagia, bangga, dan lega. Saya juga merindukan panorama orang-orang berbondong-bondong mendatangi TPS dengan sukacita, membicarakan tentang betapa tidak sabarnya mereka untuk masuk ke bilik dan memilih idola mereka. Maka, bukannya saya mengingkari untuk menjadi warga negara yang baik namun memang keyakinan saya belum teguh untuk menuju kesitu. Sehingga tidaklah heran jika sekarang banyak orang yang datang ke TPS hanya untuk mengisi waktu luang saja, karena sedang tidak ada kerjaan makanya datang. Mungkin saja, bisa jadi.

Dalam opini saya, sudah barang tentu banyak juga yang mengalami hal seperti saya ini. Bersikap seolah antipati terhadap perhelatan pilkada atau pemilu atau pemilihan-pemilihan yang lain, padahal sebenarnya mereka hanya belum menemukan alasan yang tepat saja untuk percaya pada mode pilkada dinegeri ini. Saya jadi teringat pada sebuah lagu dari sebuah band yang menjadi favorit saya. Lirik lagu ini berisikan kritikan tentang ketidakpercayaan terhadap sistem pemerintahan negeri ini. Tentang mosi tidak percaya.. Tentang masyarakat yang marah karena pemerintahnya tidak amanah. Juga tentang bagaimana politik uang  sudah menjadi budaya dalam sistem pemerintah. Sila maknai sendiri lirik lagu Mosi Tidak Percaya dari Efek Rumah Kaca.

"Ini masalah kuasa, alibimu berharga
kalau kami tak percaya, lantas kau mau apa?

kamu tak berubah, selalu mencari celah
lalu smakin parah, tak ada jalan tengah

pantas kalau kami marah, sebab dipercaya susah
jelas kalau kami resah, sebab argumenmu payah

kamu ciderai janji, luka belum terobati
kami tak mau dibeli, kami tak bisa dibeli

janjimu pelan pelan akan menelanmu

ini mosi tidak percaya, jangan anggap kami tak berdaya
ini mosi tidak percaya, kami tak mau lagi diperdaya
"



Dengan kutipan lirik lagu diatas, beginilah saya memaknai demokrasi dengan lugu. Bahwa, katanya, demokrasi adalah perkara kebebasan. Kebebasan dalam memilih atau tidak memilih. Percaya atau tidak Maka saya memilih percaya untuk tidak memilih. Tak lupa saya katakan bahwa saya salut kepada orang-orang yang sudah berani serta percaya untuk memilih dan menemukan makna demokrasi dinegeri ini. Saya ucapkan selamat!  Semoga sudah benar-benar paham, bukan hanya sekedar basa-basi. Kalau saya, masih menunggu waktu yang tepat untuk menjadi warga negara yang baik dinegeri yang (katanya) demokratis ini.





DAFTAR PUSTAKA

http://musiklib.org


Selasa, 23 April 2013

Lembar Pengakuan Halaman Dua


Malam ini aku tidak bisa tidur. Gelisah minta ampun. Sampai-sampai membuat jantungku berirama sumbang. Detaknya pun seperti gendang yang ditendang-tendang. Sudah berpuluh kali aku mengubah posisi tubuh. Telentang, tengkurap, miring kanan, miring kiri, balik lagi telentang, tengkurap, miring kanan miring kiri. Begitu terus. Malahan bikin badanku penuh peluh. Padahal kipas angin dikamarku sudah berkekuatan penuh. Apa daya, semua itu tidak berhasil menggodaku untuk tidur. Keterlaluan..“Aku butuh tidur! Tapi kantukku malah kabur!”

Aku melirik ke arah kiri atas, jam dinding bulat berwarna coklat tua yang berseberangan dengan tempat tidurku, sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Tak biasanya aku begini.. Pasti gara-gara surat itu! Surat pengakuan yg kubuat diatas kertas berwarna merah jambu kelabu, yg berisi pernyataan-pernyataan pahit mengharu biru. Ah!

Aku palingkan pandanganku ke arah langit-langit kamarku. Langit-langit yg seharusnya berwarna abu-abu sendu, membiaskan warna jingga akibat dari lampu tidur yang kunyalakan sebagai pengganti lampu utama. Aku memang tidak pernah berani meniadakan penerangan dikamarku sepenuhnya, lantaran takut akan hal- hal gaib. Membuat keberanianku raib.

Suasana sangat hening. Hanya ada suara mendesau dari kipas anginku yg berwarna kuning.
Dibawah selimut tebal ini dan ditemani sinar bulan yang sedikit mengintip dari jendela disebelah kananku, mataku masih terpaku pada langi-langit kamarku. Merenungi apa yang terjadi pagi kemarin, hari Sabtu. Mondar-mandir bayangan tentang Aryo melintasi langit-langit abu-abu. Masih jelas dalam bayangan itu, raut wajahnya yang tercengang, pucat pasi, dan menegang setelah membaca surat merah jambu-ku. Padahal itu hanya lembar pengakuan tiga halaman. Dan, ketika pada halaman dua perasaannya tak keruan.

Masih segar dalam ingatanku Sabtu pagi itu pukul  sembilan, dengan tergesa-gesa aku berangkat dari rumah menuju kampus. Sebenarnya pagi itu aku sedang tidak dalam keharusan berangkat kuliah karena memang tidak ada jadwal kuliah. Namun ada yang harus aku lakukan, dan harus segera.  Untung saja jarak rumah dengan kampus tidak seberapa jauh sehingga  mempercepat urusan ini agar segera berlalu. Urusan yang akan melibatkan emosiku dan Aryo, lelaki komplementerku. Lelaki yang selama empat tahun ini menemaniku, entah sebagai apa. Lelaki yang selama empat tahun ini hanya ku anggap sebagai pelengkap kesepianku. Tanpa sepengetahuannya, aku tak pernah benar-benar menyayanginya. Tanpa sepengetahuannya juga, aku tak pernah bisa menikmati senda guraunya. Namun dia tak pernah curiga akan kepura-puraanku selama ini, tak sedikitpun. 

Aryo adalah lelaki yang menyenangkan. Sejauh ini, semenjak aku mengenalnya sedari semester tiga dia jarang sekali marah atau menunjukkan emosi didepanku. Selalu terkendali. Entah aura apa yang menaunginya, setiap orang yang berada didekatnya tak pernah merasa bosan. Mereka senang sekali berkelakar bersama Aryo. Menertawai lelucon-lelucon yang dilontarkan Aryo walaupun kadang sebenarnya tidak lucu. Wajahnya yang berseri-seri jika sedang tersenyum ataupun tertawa sudah pasti menjerat hati banyak mahasiwi.  Aku akui, Aryo tidak bisa disebut buruk rupa. Dengan proporsi tubuh yang ideal, paras rupawan dan ceria, merupakan komposisi indah untuk seorang lelaki muda. Bahkan bisa jadi dialah idaman para mahasiswi dikampus ini. Maka banyak yang mengatakan bahwa aku beruntung bisa mendapatkan Aryo sampai detik ini.  Entahlah.

Setelah lelah menelisik kelas-kelas dilantai satu, aku mulai melusuri kelas-kelas dilantai dua dengan tenaga yang tersisa untuk mencari keberadaan Aryo.  Aku berharap bahwa hari ini dia ada jadwal kuliah. Jujur saja, aku tidak pernah hapal jadwal kuliahnya. Makanya aku kelimpungan mencari dia sekarang. Bukan karena otakku tidak mampu mengingat atau mengalami demensia.  Tapi lebih kepada perasaan enggan. Enggan untuk mengingat, mungkin juga enggan terlibat hal-hal sepele. Walaupun akhirnya malah menyusahkanku seperti sekarang ini, tapi aku sama sekali tidak menyesalinya. Semua tindakan punya konsekuensi. Layaknya tindakanku sebentar lagi terhadap Aryo. Pemikiran ini membuat adrenalinku melonjak, berhimpitan di pembuluh darah, meraung-raung minta diperhatikan. Ah!  Aku malah jadi gregetan..

Satu jam sudah aku berkeliling untuk menemukan keberadaan Aryo. Sukar sekali menebak dimana dia berada karena keputusanku untuk menemuinya tanpa pemberitahuan sudah bulat. Sehingga apapun yang terjadi, aku harus tetap mempertahankan tekad! Akhirnya aku memutuskan untuk mencari Aryo di kosnya. Siapa tahu dia ada disana. Dengan tergesa-gesa aku menuju ke kediaman Aryo yang, untungnya, hanya berjarak lima menit saja dari kampus. Sekuat tenaga aku mengobarkan niatku agar tidak pupus. Niat baikku untuk memperbaiki tujuan hidupku agar jelas dan tegas, sudah tersusun rapi didalam surat ditangan kananku ini. Lembar pengakuan yang kutulis dengan tinta hitam, bukan warna-warni. Representasi tentang bagaimana perasaanku terhadap Aryo selama ini. Hanya satu warna dengan satu makna. Hitam.

Dengan setengah berlari akhrinya aku sampai juga didepan kos Aryo. Aku menerobos pintu pagar tinggi itu, pagar besi tinggi berwarna merah bata yang menghalangi jalanku. Sudah tidak sabar aku ingin segera menemui lelaki itu. Lantaran sangat diburu adrenalin, hampir saja aku meremas surat penentu nasib ditangan kananku. Tak lama setelah ku terobos pintu merah itu, tampak sudah kamar Aryo didepanku. Kamarnya memliki pintu berwarna cokelat tanah bertuliskan papan nama Aryo Harmawan, dipadu dengan dinding berwarna putih tulang. Baik pintu maupun dindingnya terlihat rapuh karena lubang disana-sini, dan guratan-guratan kasar dipermukaannya. Rak sepatu berwarna hitam yang tersusun rapih disebelah kanan pintu membuatku tersadar kalau ternyata Aryo adalah lelaki yang teratur. Dan aku baru menyadarinya setelah empat tahun. Ku alihkan pandanganku dari rak sepatu ke pintu lalu mulai mengetuknya. Sempat ragu beberapa detik, namun akhirnya kekuatan surat itu menyerangku. 

“TOK! TOK! TOK!” 

Ketukan pertama, zero response.

“TOK! TOK! TOK”

Beberapa detik aku terdiam, menunggu dengan tidak sabar, berharap seorang perempuan keluar dari kamarnya. Seolah-olah sedang tertangkap selingkuh. Akan lebih membuatku lega, alibiku untuk marah akan lebih sempurna. Membuatku tak berdosa. Namun, ternyata harapanku terlalu mengada-ada karena jelas-jelas Aryo sendirilah yang membuka pintu. Dengan wajah kusut masai sehabis bangun tidur, dia menyambutku dengan sumringah. Sangat sumringah. Aku memahami ekspresi Aryo. Ekspresi itu adalah wujud keterkejutan sekaligus rasa bahagianya karena selama empat tahun berpacaran ini kali pertama aku menginjakkan kakiku di kosnya. Itu, buat Aryo, sangat luar biasa. Dan aku sebisa mungkin harus terlihat tak bersalah atas hal itu.

“Hei.. tumben kamu kesini, hun. Hehehe.. maaf ya aku baru banget bangun tidur. Tadi subuh sih udah bangun, kelar sholat aku lanjut tidur lagi. Gada kuliah soalnya. Eh, lho kok kamu rapih banget hun? Kuliah? Bukannya kamu gada jadwal kuliah? Seinget aku kamu gada jadwal kuliah kan...” Senyum Aryo menggambarkan ketulusan. Manis sekali. Aku suka. Hanya itu, selebihnya biasa saja.

Tanpa pikir panjang, aku serahkan surat merah jambu itu kepada Aryo. Dengan ekspresi datar dan tidak sabar, aku menyerahkan surat itu dengan segera.
“Baca..”

Aryo terheran-heran. Mungkin dalam benaknya dia bertanya-tanya ada angin apa sampai aku menghadiahinya surat merah jambu dihari Sabtu. Aku melihat sekilas senyum anehnya terpampang sejenak. Seperti senyum jual mahal yang mempercayai bahwa didalam surat itu berisikan serangkaian tulisan tentang cinta, atau tentang betapa aku menyayanginya sehingga tak mampu aku lisankan sampai harus aku tuliskan. Senyum jual mahal yang akan membuatnya menyesal. Menyesal karena sudah tersenyum.

“Ya ampun hun, ini surat pertama dari kamu lho selama empat taun ini.. hehehe.. Emang harus surat ya? Kan bisa to the point aja..” Masih saja senyum itu terukir dengan tulus. 

“Harus pake surat.. Baca aja..” Tak ada senyum dariku. Senyum tulus Aryo aku balas dengan tatapan datar tanpa sedikitpun tampak berbinar. 

Mulailah dia merobek amplop surat itu dengan perlahan dan hati-hati. Dikeluarkannya surat merah jambu dari amplopnya. Sedikit kusut, namun tidak lusuh. Ada tiga lembar. Berukuran tidak terlalu besar. Mungkin hanya seukuran buku tulis kecil. Sambil masih menyunggingkan senyum, Aryo membuka lembar pertama dengan raut wajah sumringah.

*****

Lembar pertama.

Dear Aryo,
Surat ini pertama kalinya aku buat untuk kamu. Tidak akan kepura-puraan didalamnya. Tidak juga ada kata-kata romantis dan manis. Yah, kamu tau sendiri. Aku bukan tipe cewek yang suka memanipulasi kata-kata supaya terdengar santun atau puitis. Alakadarnya. Jelas. Sedikit kaku, tapi mudah dipahami. Sudah lama aku menunggu untuk ini. Menunggu datangnya keberanian menulis semua perasaanku tentang hubungan kita. Tentang perasaanku ke kamu. Bagaimana selama empat tahun ini aku mencoba mencari jawaban atas perasaanku terhadap kamu. Semoga kamu membaca ini sebagai suatu yang wajar. Inilah sebuah proses pembelajaran tentang makna suatu hubungan antara wanita dan pria. Ternyata tidak semudah dan seindah yang orang-orang bilang. Makanya aku berani menulis ini.. Yah, lembar pertama ini prolognya saja. Lembar kedua, barulah pengakuan. Semoga kamu memaklumi bahwa setiap kata yang tertulis bukanlah hal yang melankolis.

Perlahan raut wajah Aryo menyiratkan keheranan, atau lebih tepatnya keingintahuan yang spontan. Setelah membaca lembar pertama, Aryo seperti sedikit enggan dan ragu membalikkan lembar tersebut menuju lembar kedua. Tampak mulai bisa menebak lembar selanjutnya akan mengarah kemana. Sejenak Aryo melemparkan tatapan penuh tanya kedalam mataku. Seperti ingin bertanya, “apa maksudnya ini?”. Lalu aku membalas tatapannya dengan tatapan kaku, dingin, dan dengan raut wajah datar. Aku mengangkat bahu, berusaha memberikan pengertian bahwa lebih baik teruskan membacanya. Aku tidak bisa menjelaskan secara lisan. Merasa malas. Kemudian, Aryo kembali menatap surat itu dengan  sedikit kecewa. Terlintas juga raut muka pucat dan tegang. Jemarinya seakan membeku saat harus membalik lembar pertama. Terlihat takut-takut. Gundah pun melanda. Dengan sangat dipaksakan, Aryo membalikkan juga lembar pertama. Pandangannya nanar ketika membaca kalimat pertama pada lembar kedua.

*****

Lembar kedua.

Begini caranya aku berterus terang kepada kamu bahwa aku tidak pernah menyayangimu, sebagai pacar. (Sebagai teman, mungkin iya). Bisanya hanya lewat surat. Dan yah, memang iya ternyata aku menyayangimu hanya sebagai teman. Aku tidak tahu bagaimana caranya menaikkan level rasa sayang ini dari hanya sekedar sayang kepada teman menjadi rasa sayang terhadap pacar. Riskan. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku mau pacaran denganmu. Hanya karena teman-teman senang melihatku bersamamu, maka aku pikir tak ada salahnya membahagiakan orang banyak. Juga tak mengapa membahagiakanmu. Toh hal itu bukan dosa, Tuhan pasti paham. Tapi ternyata aku malah membodohi diri sendiri, membodohi kamu, dan semua orang. Kalian percaya bahwa aku menyukai hal itu, bahkan kalian percaya bahwa aku bahagia bersamamu. Yah, memang bahagia sih. Cuma, kadarnya sedikit. Aku merasa seperti sedang didepan kamera, seolah-olah sedang terlibat dalam sebuah film. Dan aku dituntut untuk menjadi apa yang kalian mau.
Aryo, semua hal yang baik tentang dirimu ada bersamaku. Semoga hal yang baik tentangku juga ada bersamamu. Jika setelah membaca surat ini kamu marah, maka lakukan! Atau kamu ingin menyumpahiku, lakukan! Jangan tunduk pada kesabaranmu, berontaklah. Aku sudah bersiap-siap untuk semua itu. Aku hanya akan berterima kasih atas waktumu yang telah terbuang percuma. Baiklah, begitu saja. Semoga kamu mengerti. Sudah dulu yaa.

Kesedihan Aryo tak terbendung, raut wajahnya sangat memelas. Pucat pasi, seperti orang kehabisan napas yang terjebak didalam peti mati. Dengan terburu-buru, dia membalikkan lembar kedua.

******

Lembar 3

Kita akan saling diam dan tak bertegur sapa. Karena detik setelah ini, kita adalah orang asing untuk masing-masing...

Sincerely yours,
Juni

*****

Setelah itu, yang mampu ku ingat adalah Aryo meremukkan surat itu dengan amarah serupa Btara Durga. Melemparnya ke wajahku dengan penuh kesungguhan. Emosi terlihat sangat jelas diwajahnya, tanpa kendali. Dan aku sengaja untuk tidak berpaling kala surat merah jambu itu mendarat diwajahku. Lalu, setelah ku pikir bahwa tindakan Aryo sudah sepadan dengan rasa sakit yang kutimbulkan, tanpa protes dan tanpa permisi aku pergi meninggalkan Aryo. Bahwasanya langit tidak mengijinkanku berlama-lama disitu karena mendung sudah gelisah diatas sana. Aku juga tidak mau ambil resiko kalau-kalau hujan turun dan aku harus basah-basahan pulang dari tempat Aryo. Maka itu aku tinggalkan Aryo dengan terburu-buru. Tak aku hiraukan sumpah serapahnya terhadapku. Aku tidak akan membiarkan mendung mengirimkan hujan untuk menjadi penengah. Jadi, sebelum hujan turun lebih baik aku angkat kaki. Dibelakangku, terdengar dengan jelas Aryo menendang rak sepatunya hingga terpental entah ke arah mana. Berteriak-teriak meneriakkan, sepertinya, kata-kata kasar luar biasa. Saat itu aku sejenak tuli dan tidak peduli lagi. Aku tidak berusaha untuk menoleh lagi kesana. Terlalu sibuk berlomba dengan mendung. 

“Aku harus cepat-cepat sampai rumah supaya gak kehujanan...” begitu batinku.

*****

Jam bulat coklat tua menyadarkanku bahwa sudah pukul tiga sekarang. Ingatanku tentang Aryo dan surat merah jambu berlembar tiga membuat kantukku tak juga menerjang. Aku semakin gelisah. Harusnya tak usah merasa bersalah, tapi malah gundah. Aku sudah tak kuasa dengan keresahan ini, logika dan nuraniku berkelahi tak kenal waktu! Aku kan ingin tidur. Dan tiba-tiba saja, terlintaslah dipikiranku untuk menenggak obat tidur. Ya! Obat tidur. Aku butuh satu butir saja untuk mendamaikan sejenak logika dan nuraniku. Aku ingat menyimpannya dilaci lemari. 

Setelah menenggak satu butir, tak perlu waktu lama akhirnya untuk terlelap. Memang obat dewa! Bisa membuat orang yang terjaga karena gelisah menjadi mati suri untuk beberapa jam. Diiringi suara kipas angin yang syahdu dan cahaya bulan yang mengintip dari jendela dengan kemayu, maka jiwaku yang terlelap seolah terbawa masuk kedalam dunia ruh-ruh malaikat yang tenang. Sangat tenang. Melayang. Didalam sana, aku melihat kebun bunga mawar berwarna-warni. Diselingi bunga tulip yang masih kuncup berseri. Segar berselimut embun dan tertimpa cahaya matahari yang seolah tersenyum ramah. Diseberang sana sungai mengalir diam-diam, tanpa suara, hanya memantulkan sinar surya yang berkilauan. Airnya bening tak keruan. Tak setitikpun noda didalamnya. Hanya air. Lalu, tak luput dari mataku, melati berhamburan disepanjang jalan setapak yang menuju sungai itu. Menebarkan keharuman ganjil yang mencengkeram otak, seperti candu yang ingin selalu kuhirup. Seperti, aku akan mati jika tak terus-terusan menghirupnya. Sambil terus menghirup aromanya, aku memutuskan untuk berjalan diatas hamparan melati tersebut dengan gemulai serta rasa rileks yang teramat sangat, yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Sungguh ajaib! Dan aku memutuskan untuk berjalan menuju sungai itu. 

Diujung jalan setapak, disisi sungai, aku lihat seseorang berdiri. Dikelilingi cahaya yang indah, luar biasa indah. Cahaya yang tak pernah kulihat didunia nyata. Cahaya gemerlap yang lebih gemerlap daripada cahaya kota Metropolitan dimalam hari. Mungkin itu adalah cahaya seorang malaikat. Malaikat tanpa sayap. Maka, tanpa ragu aku segera menuju sumber cahaya itu. Menuju seseorang yang ku asumsikan sebagai malaikat. Malaikat yang perawakannya seperti laki-laki. Aku yakin dia laki-laki. Terlihat rambutnya yang berpotongan pendek rapi, menampilkan dua telinganya yang sempurna. Tinggi badannya yang pas dengan besar tubuhnya,  berdiri dengan gagah dan tegap. Nyaman sekali memandangnya dari belakang. Pakaiannya yang berwarna putih, menyiratkan jiwanya yang juga putih menurutku. Cahaya indah itu masih mengelilinginya. Tinggal beberapa langkah lagi untuk menyapanya. Kemudian ketika pada saatnya, aku berdiri tepat dibelakangnya. Tersenyum dengan tulus, berharap dia akan menegur senyumku dengan senyumnya yang berbinar. Kemudian, aku beranikan untuk menyapa. 

“Haloo..” suaraku sedikit bergetar karena menahan luapan rasa gugup dan kagum.

Malaikat bercahaya itu ternyata berencana untuk menoleh. Dengan perlahan dan teramat lembut, membawa serta cahayanya juga. Ah! Menerpa wajahku. Aku memicingkan mata, menaungi mataku dengan sebelah tanganku, berusaha mengusir cahaya itu dari mataku. Luar biasa! Cahaya itu. Butuh beberapa saat untuk mataku menyesuaikan penglihatan akibat cahaya malaikat itu. Setelah berhasil, kini aku bisa memandang malaikat itu dengan jelas karena cahayanya perlahan memudar. Atau sengaja dipudarkan olehnya agar aku dapat memandang wajahnya dengan jelas. Yang menurut bayanganku adalah tatanan wajah sempurna nan rupawan. Lalu setelah aku bisa dengan jernih melihat wajahnya, napasku seketika tercekat. Suaraku meniada. Teriakanku terdengar hanya bagai desau angin di pagi hari. Tubuhku gemetar. Kakiku lemas dan tanganku menjadi kaku. Jantungku kesulitan berdetak. Aku melihat Aryo dalam cahaya yang memudar itu! Mimik mukanya dingin, datar, dan tak berbelas kasihan. Ketika aku masih berusaha mengusir semua keterkejutan itu, dia menyodorkan sebuah kertas. Ah, lebih tepatnya surat. Surat berwarna merah jambu kelabu berlembar tiga... Dan dia berkata,
 “Baca...”

*****

“ARYOOOO...!!” teriakanku memudarkan mimpiku. Bulir-bulir peluh membasahi wajahku.
Jam bulat berwarna coklat tua menunjukkan pukul empat pagi hari.